Dari STM Pembangunan ke Developer

Ga nyangka banget bakalan balik ke dunia sipil pembangunan perumahan, rencana Allah sungguh indah.. Masya Allah Tabarakallah..

endra

8/21/20262 min read

Saya sekolah di STM Pembangunan, SMK Negeri 5 Makassar, jurusan Konstruksi Bangunan. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan bahwa apa yang saya pelajari — survey, ukur tanah, baca gambar konstruksi — akan benar-benar terpakai belasan tahun kemudian, di jalur hidup yang sama sekali tidak saya rencanakan.

Karena setelah SMK, jalan saya justru berbelok jauh dari konstruksi.

Berbelok ke Manajemen, Lalu ke Telekomunikasi

Saya lanjut kuliah di STIEM Boengaya Makassar, jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan. Sudah jauh dari dunia bangunan. Lalu saya bekerja 12 tahun di industri telekomunikasi — bukan proyek properti, bukan konstruksi, tapi urusan sinyal dan jaringan.

Kalau saat itu ada yang bilang ke saya, "kamu nanti akan jadi developer perumahan," saya mungkin akan tertawa. Latar belakang saya sudah menjauh dari konstruksi selama bertahun-tahun. Tidak ada rencana untuk kembali ke sana.

Tapi jalan hidup memang sering tidak lurus.

Dipertemukan Lagi dengan Dunia yang Saya Tinggalkan

Setelah belasan tahun berputar di manajemen dan telekomunikasi, saya justru dipertemukan kembali dengan dunia sipil — kali ini sebagai developer kavling dan perumahan.

Dan di sinilah saya baru sadar: pelajaran survey ukur tanah dan konstruksi yang dulu saya anggap "sekadar mata pelajaran sekolah" ternyata menghiasi perjalanan saya di beberapa proyek yang saya jalankan setelahnya — termasuk Al Hadid Residence, perumahan komersil tanpa bank sekitar 60 unit di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kemampuan membaca kontur tanah, memahami dasar konstruksi, tahu apa yang harus dicek saat survey lokasi — itu semua bukan ilmu yang saya pelajari dadakan waktu mulai jadi developer. Itu bekal yang sudah ada sejak bangku SMK, hanya saja butuh waktu belasan tahun untuk saya sadari fungsinya.

Bukan Kebetulan, Ini yang Saya Sebut Rezeki Jalan Memutar

Saya tidak percaya ini murni kebetulan. Saya melihatnya sebagai bentuk rezeki yang jalannya memutar — persiapan yang sudah dititipkan jauh sebelum saya tahu untuk apa. Saya sekolah konstruksi bukan karena saya tahu akan jadi developer. Saya bahkan sempat menjauh dari dunia itu selama bertahun-tahun. Tapi ternyata semua itu ada gunanya, di waktu yang tepat.

Kenapa Ini Penting Saya Bagikan

Saya menulis ini bukan untuk sekadar bernostalgia. Ini relevan buat kamu, anak muda yang sedang di persimpangan — mungkin merasa jurusan sekolah/kuliahmu "tidak nyambung" dengan apa yang kamu jalani sekarang, atau merasa sudah terlalu jauh dari passion awal untuk kembali.

Yang saya alami menunjukkan satu hal: latar belakang yang kamu anggap tidak relevan hari ini, bisa jadi justru fondasi yang kamu butuhkan nanti. Pertanyaannya bukan apakah bekalmu cukup — tapi apakah kamu mau tetap terbuka pada jalan yang tidak lurus.

Ini juga bagian dari kenapa saya sekarang fokus membantu anak muda yang mau punya proyek properti mandiri sendiri — karena saya tahu rasanya memulai dari titik yang kelihatannya tidak nyambung sama sekali.

IG: @endrapromuda | #devpromandiri