Sebelum Proyek Pertama Saya Jalan, Ada Satu yang Gagal Total

Al Falah Premiere: Proyek yang Tidak Pernah Berdiri Tapi Bukan Gagal, Hanya Sedang Berproses"

8/23/20262 min read

Tahun 2020, saya ikut kelas pengembangan proyek properti (DPS). Di situ saya mulai serius mikir: kenapa saya cuma jadi marketing terus untuk proyek orang lain? Kenapa saya tidak punya proyek sendiri?

Dari situ saya mulai jalan sebagai apa yang saya sebut "developer keliling" — scouting lahan sendiri, cek satu per satu, coba baca peluang yang orang lain belum lihat.

Proyek pertama yang saya coba jalankan namanya Al Falah Premiere, lokasinya di Moncongloe — arah belakang BTP, jauh sebelum perumahan-perumahan besar seperti Findaria dan Asera berdiri di kawasan itu. Saat itu belum ada yang lirik area itu. Saya lihat potensinya duluan.

Semua Terlihat Lancar, Sampai Satu Masalah Muncul

Setelah dapat info lahan, kami cek zonasi tata ruang di Maros — semua sesuai. Lanjut ke pengecekan berkas dan surat kepemilikan.

Di situlah masalahnya muncul: nama di SHM tidak sama dengan nama pemilik saat ini. Pemiliknya seorang ibu yang namanya berubah setelah menikah, sementara sertifikat masih memakai nama sebelumnya.

Kami tidak langsung menyerah. Kami cari solusi — sampai ke pengadilan, bahkan menghadirkan saksi dari Kalimantan untuk membuktikan bahwa dua nama itu adalah orang yang sama.

Hasilnya: ditolak.

Investor Sudah Mau Menyerah. Saya Bilang, Belum.

Titik itu berat. Bukan cuma buat saya — investor yang ikut di proyek ini juga sudah mulai goyah, hampir memutuskan untuk berhenti saja.

Saat itu saya cuma bilang satu hal: "Kita belum gagal. Kita hanya sedang berproses."

Saya tidak tahu apakah itu benar secara data waktu itu. Tapi saya tahu itu satu-satunya cara saya bisa terus jalan.

Beberapa tahun kemudian, ada developer lain yang berhasil membuka proyek perumahan di lahan yang sama, persis di lokasi yang dulu kami incar. Sekarang sudah terbangun dan terhuni penuh. Saya tidak menyesalinya — justru itu bukti bahwa pilihan lokasi saya waktu itu benar. Yang salah cuma waktunya, dan mungkin cara saya menyelesaikan masalah administratifnya.

Dari Kegagalan ke Moncongloe 2021

Al Falah Premiere tidak pernah berdiri. Tapi dari situ saya belajar hal yang tidak diajarkan di kelas manapun: cara membaca risiko legalitas lahan, cara bernegosiasi saat semua terlihat buntu, dan yang paling penting — cara tetap jalan waktu tim sendiri sudah mau berhenti.

Setahun setelah itu, di 2021, saya akhirnya berhasil melaunching proyek kavling pertama saya yang benar-benar jalan — juga di Moncongloe, Maros. Bukan kebetulan saya kembali ke area yang sama. Saya sudah kenal medannya, sudah tahu apa yang harus dicek lebih dulu sebelum masuk lebih dalam.

Kalau kamu sedang di titik di mana proyek pertamamu gagal, atau bahkan belum juga mulai karena takut gagal — saya cuma mau bilang: proses itu nyata, dan kegagalan pertama bukan akhir cerita. Itu justru bagian dari riset lapangan yang tidak akan pernah kamu dapat dari kelas manapun.

IG: @endrapromuda | #devpromandiri